Hal ini diungkapkan oleh seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya membuat kue kering atau cemilan yang dipasarkan di sekitar desa, bahkan pembelinya juga datang dari desa tetangga. Usaha industri rumah tangga yang dibangun secara mandiri ini telah lama ditekuni oleh Ibu Hj. Asma.

Dari usahanya ini, beliau memperoleh penghasilan sekitar Rp. 1.500.000,- sampai Rp. 2.000.000,-. Apalagi pada musim acara pernikahan, biasanya dia mendapat pesanan untuk kue bolu  dan kue lainnya.

Ibu Hj. Asma yang tinggal di Desa Bonto Cinde, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini merasa terbantu dengan adanya Biogas Rumah (BIRU) karena beliau dapat lebih hemat dalam hal pengeluaran kebutuhan elpiji.

Menurut beliau, dalam seminggu biasanya memakai sekitar 5 sampai 7 tabung elpiji ukuran 3 kg untuk kebutuhan memasak dan mendukung usahanya. Ibu Hj. Asma kemudian membangun reaktor biogas ukuran 4 meter kubik dan akhirnya tidak perlu lagi membeli gas elpiji yang terhitung mahal di desanya, sekitar Rp. 18.000,- per tabung.

Pada Desember 2015 lalu saat kegiatan peringatan pembangunan 15.000 reaktor BIRU di Indonesia di Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, hasil rumah tangga dari Bonto Cinde dipamerkan bersama dengan hasil produk turunan dari industri rumah tangga yang didukung dengan biogas dan bio-slurry (ampas biogas) lainnya dari Sulawesi Selatan, seperti gula merah atau gula aren dari Bulukumba, pupuk padat dan cair organik bio-slurry dari Kabupaten Takalar dan Maros.