Bapak Raba Daeng Emba tinggal di Dusun Tombolo, Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Beliau adalah kepala keluarga dari empat orang anak yang berprofesi sebagai sopir truk dan peternak, sedangkan istri beliau, Ibu Daeng Ati, adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka memiliki usaha sampingan yang dikelola semenjak  10 tahun terakhir dengan membuka warung bakso.

Setiap hari mereka membuka warung ini dengan harapan ada pelanggan yang mampir untuk membeli. Suatu saat terjadi kelangkaan gas elpiji, mereka terpaksa memakai kayu bakar untuk memasak agar usaha warung dapat tetap berjalan. Namun di sisi lain, mereka harus menambah jam kerja untuk mencari kayu bakar di hutan. Hal ini tidak berjalan lama karena Bapak Raba Daeng Emba selaku kepala keluarga tidak bisa meninggalkan profesi tetapnya sebagai sopir truk, sehingga warungnya ditutup untuk sementara.

Setelah beberapa bulan usaha warung ditutup, mereka mulai mencari solusi agar dapat mengatasi masalah kelangkaan gas elpiji tanpa mengandalkan lagi kayu bakar. Suatu ketika Bapak Raba Daeng Emba mendapat informasi dari salah satu tetangganya yang sedang mencari calon pengguna biogas.

Awalnya beliau tidak sepakat untuk menjadi pengguna biogas karena banyak orang yang mengatakan bahwa biogas itu tidak layak untuk dipakai memasak. Dikatakan bahwa makanan yang dimasak menggunakan biogas akan berbau kohe (kotoran hewan).

Tetapi, penjelasan dari Bapak Baktiar, salah seorang pengurus dari mitra pembangun Biogas Rumah (BIRU) di Kabupaten Maros, cukup meyakinkan beliau yang pada akhirnya setuju untuk membangun biogas di rumahnya.

Selang beberapa hari dari pertemuan tersebut, beliau mulai menggali lubang untuk pembangunan biogas. Setelah pembangunan biogas dan masa awal pengisian kohe sebagai sumber bahan baku biogas yang membutuhkan waktu sekitar tiga minggu, akhirnya biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak.

Beliau kemudian mematahkan pernyataan masyarakat sekitar mengenai biogas yang mengatakan bahwa tidak layak dipakai untuk memasak makanan.

Dengan menggunakan biogas dari kotoran ternak sapi, usaha warung bakso yang sempat ditutup selama beberapa bulan akhirnya dibuka kembali dan saat itu tidak lagi memakai gas elpiji atau kayu bakar.

Setelah sebulan berjalan, Bapak Raba Daeng Emba merasa mendapat keuntungan lebih dari biasanya karena makanan yang dijualnya tidak lagi menggunakan gas elpiji. Gas elpiji terhitung cukup mahal harganya yaitu Rp. 25.000,- per tabung 3 kilogram. Keuntungan lainnya adalah kebersihan kandang ternak yang saat ini tidak lagi mengganggu lingkungan di sekitar warung, dan mendapat pupuk organik gratis yang keluar dari reaktor biogas. (Zaenal H.M)