Ibu Tri Awartin adalah istri dari salah seorang pengguna Biogas Rumah (BIRU) yang tinggal di Yogyakarta.  Usianya 33 tahun dan memiliki 2 orang anak, perempuan dan laki-laki.  Ia berasal dari daerah Pakem, Kecamatan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.  Suaminya Bapak Sukadi, 37 tahun, berasal dari Bendosari, Kecamatan Bantul, Yogyakarta.  Dari pernikahannya, Ibu Tri Awartin berangsur-angsur menjadi bagian dari masyarakat Bendosari.  Tidak mudah baginya untuk hidup di tengah-tengah masyarakat yang memiliki karakteristik dan budaya yang berbeda.  Ia lahir di tengah keluarga yang sangat sederhana.  Ayahnya bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor pemerintah dan orang tuanya menunjukkan kepadanya bahwa pekerjaan rumah tangga dapat dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Sayangnya, budaya di Bendosari berbeda sekali dengan apa yang telah ia pelajari dari orang tuanya.  Di daerah ini, laki-laki diposisikan sebagai seorang pemimpin keluarga yang tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.  Ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, sementara suaminya melakukan pekerjaan yang lebih ringan.  Selama pelatihan inklusif gender dari proyek GADING, ia berbagi pengalaman, “…. Saya merasa sangat lelah.  Saat saya mulai hidup bersama dengan suami saya, saya harus mulai bekerja pagi-pagi sekali menyiapkan semua kebutuhan anggota keluarga dan pekerjaan rumah tangga ini dari saat mereka masih tidur berlangsung terus hingga jauh malam.”  Ia mengekspresikan keinginannya untuk memiliki pekerjaan lain selain pekerjaan rumah tangga, agar ia juga dapat membantu suaminya untuk mendapatkan penghasilan dalam memenuhi semua kebutuhan rumah tangga mereka.  Namun, ia ragu apabila ia menyampaikan keinginannya kepada suaminya, ia khawatir akan mengganggu pernikahan mereka.  Namun di sisi lain, ia merasa tidak dapat melanjutkan ikatan pernikahannya apabila suaminya tidak berubah.

Pelatihan gender dari proyek GADING (Penghimpunan dan Penyebarluasan Informasi serta Pengetahuan Ramah Lingkungan untuk Tenaga Kerja Pertanian Terintegrasi yang Berkelanjutan di Indonesia) menjadi titik balik untuk Ibu Tri Awartin.  Metodologi Gender Acttion Learning System (GALS) memungkinkannya untuk mengutarakan dan mengkomunikasikan masalah, keinginan, dan cita-citanya.  Dengan mengajak suaminya untuk mengikuti pelatihan, ia dapat membantu suaminya untuk meningkatkan kesadaran terkait keseimbangan gender dan pembagian kerja.  Hasilnya, komunikasi dan kerja sama dengan suaminya sekarang menjadi lebih baik.  Bapak Sukardi mulai membantu Ibu Tri Awartin membersihkan rumah dan merawat anak-anaknya, meskipun perubahan perilaku dan pembagian tugas rumah tangganya awalnya tidak berjalan lancar.  Dengan dukungan suaminya, ia sekarang lebih percaya diri dalam menghadapi “tuduhan” dari lingkungan masyarakat sekitar Bendosari dengan budaya patriarki yang kuat.  “Saya selalu ingat pohon keseimbangan gender (Gender Acttion Learning System (GALS) setiap kali saya menghadapi tantangan,” ujarnya.

Ibu Tri Awartin berubah menjadi seorang wanita dengan visi dan motivasi untuk mengembangkan rumah tangganya dan membentuk dirinya dengan eksistensinya yang tidak hanya berdasarkan pada pekerjaan kasar namun juga intelegensia dan beragam aktivitas yang berguna.  Ia merasa ia memiliki kekuatan yang lebih besar untuk melanjutkan hidupnya dan perjalanan rumah tangganya tanpa keraguan.

Cita-citanya adalah untuk mengubah pendidikan pra-sekolah dimana ia bekerja menjadi guru di sana.  Sejauh ini ia bekerja sebagai relawan.  Ia berharap sekolah dapat memiliki kapasitas untuk membayarnya agar kerja kerasnya dapat dihargai.  Setelah berbulan-bulan, ia terkejut saat cita-citanya menjadi kenyataan.  Ia juga memiliki cita-cita besar untuk mengubah kondisi masyarakat, khususnya untuk kaum perempuan.  Ia akan merangkul kaum perempuan di Bendosari agar lebih kreatif dan berpikir independen.

Saat ini, Ibu Tri Awarti adalah anggota aktif di sebuah kelompok masyarakat di Kecamatan Bantul, Yogyakarta.  Dengan bergabung dengan kelompok membekalinya dengan peluang untuk menyebarkan pengetahuan dan manfaat dari ampas biogas (bio-slurry) dan lemna bagi orang lain.  Berbagi pengetahuan selalu menjadi cita-citanya dalam hidup sejak ia masih kecil.  Rumah tangga juga mendapatkan manfaat karena mereka telah mulai menanam sayur mayur dengan menggunakan pupuk yang berbasis bio-slurry yang dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga, di samping bahan pangan sehat yang dihasilkan dari pupuk organik bio-slurry.