Instalasi biogas milik H. Zainuddin

Tampak seorang pria baruh baya sedang sibuk bekerja di lahan tambak udang dan ikan bandeng, beliau bernama H. Hasanuddin, pengguna Biogas Rumah (BIRU) yang tinggal di Kelurahan Langa, Kecamatan Matirosompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bersama dengan istrinya, Hj. Arfina, beserta lima orang anaknya. Usaha tambak mulai dirambah sejak tahun 1985 dan sampai dengan saat ini luas lahan tambak secara keseluruhan telah mencapai 7 hektar.

Selain kesehariannya diisi dengan kegiatan mengurusi lahan tambak udang dan ikan bandeng, beliau juga memelihara ternak sapi sebanyak 25 ekor yang baru dimulai pada tahun 2012 lalu.

Sejak memiliki ternak sapi, beliau sudah berkeinginan untuk mempunyai biogas karena melihat teman yang tinggal di kampung lain telah berhasil memanfaatkan ampas biogas (bio-slurry) sebagai pupuk organik. Namun, beliau sempat mengurungkan niatnya untuk memiliki biogas karena pada saat itu ada pihak yang menawarkan pembangunan biogas dengan biaya terhitung mahal.


Instalasi biogas milik H. Hasanuddin

Akhirnya pada tahun 2015, Program BIRU bekerja sama dengan Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan sosialisasi di Kelurahan Langan tempat beliau tinggal. Beliau kembali bersemangat untuk meneruskan keinginannya membangun biogas.

Kemudian di tahun 2016 reaktor biogas miliknya yang berukuran 12 m3 mulai dibangun dan beliau saat itu menambah biaya pembangunan secara swadaya. Hal ini dikarenakan program kerja sama dengan Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan mewajibkan pengguna biogas untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan biogas baik dalam bentuk dana tunai atau material (bahan-bahan konstruksi biogas). Saat ini beliau juga telah membangun tempat penampungan bio-slurry untuk melengkapi instalasi biogas yang telah ada.

Pada awal usaha tambak mulai dijalankan, beliau menggunakan pupuk kimia untuk lahan tambaknya (jenis Urea dan NPK). Penggunaan pupuk kimia ini tampak memberikan peningkatan produksi setiap tahunnya terutama pada tahun 1990-an. Namun, seiring dengan berjalannya waktu produksi hasil tambak mulai memperlihatkan penurunan terutama saat masuk pada tahun 2010-an.

Setelah diamati ternyata penyebabnya adalah lahan tambak mulai tidak subur. Tidak hanya lahan tambak milik H. Hasanuddin yang mengalami kondisi tersebut, masyarakat pemilik tambak di sekitar area tempat beliau tinggal juga mengalami hal serupa. Produksi kian menurun dan beliau mencoba menambahkan volume pupuk kimia berharap agar dapat memperbaiki hasil produksi, namun hal tersebut akhirnya membuat lahan tambak menjadi semakin kritis.

Beliau tidak menyerah dan berbagai cara akhirnya dicoba agar lahan tambak kembali subut. Sampai pada akhirnya beliau yakin bahwa untuk mengembalikan kondisi lahan tambak adalah menggunakan bahan-bahan organik.

Tahun 2017, beliau kemudian menggunakan bio-slurry sebagai pupuk kolam untuk lahan tambak udang dan ikan bandeng. Hasilnya ternyata menurut beliau sangat memuaskan. Sebelum menggunakan bio-slurry, kegiatan panen udang biasanya dilakukan pada saat umur udang mencapai 3 sampai 4 bulan dengan kondisi udang tidak kelihatan cukup bagus atau daging udang tidak terlalu berisi apabila dipegang. Tetapi, setelah menggunakan bio-slurry, beliau dapat memanen udang hanya saat udang berumur 2 sampai 3 bulan dengan kualitas udang yang lebih bagus dan sehat atau lebih berisi.


Lahan tambak udang dan kolam ikan bandeng

Demikian juga dengan ikan bandeng, beliau dapat memanennya lebih awal dan berat ikan bandeng juga tampak lebih meningkat. Pemanfaatan bio-slurry akhirnya membuat produktivitas hasil tambak meningkat dan berkelanjutan.

Seperti yang diketahui bio-slurry basah maupun kering baik digunakan sebagai sumber pupuk kolam ikan atau budidaya ternak air lainnya. Dosis penggunaan bio-slurry yang tepat untuk pupuk kolam akan membuat bibit ikan lebih tahan terhadap stres sehingga meminimalkan tingkat kematian bibit. Selain itu, dapat mengurangi serangan penyakit terhadap ikan.