“Tahun ini di Lewa panen kami sangat sedikit karena ada serangan hama tikus dan keong mas. Untuk lahan sawah seluas 1 hektar hanya menghasilkan 7 -10 karung saja (1 karung = 100 kilogram) atau setara 700-1000 kilogram. Namun di sawah, saya yang memakai bio-slurry, tidak terkena serangan hama sama sekali sehingga saya bisa panen sampai 40 karung atau 4000 kilogram. Ini semua berkat bio-slurry, selain aman dari hama hasil panenpun jauh lebih banyak dari yang menggunakan pupuk kimia,” demikian disampaikan Bapak Bernardus Missa salah satu pelaku bisnis bio-slurry dari Desa Kambuhapang, Kecamatan Lewa Sumba Timur, saat menjadi pemateri pertama dalam kegiatan Pelatihan Kewirausahaan Bioslurry yang dilaksanakan tanggal 5-6 Juni 2017 di Aula Hotel Elvin Waingapu oleh Yayasan Rumah Energi (YRE).

YRE merupakan anggota konsorsium Hivos, salah satu penerima hibah Pengetahuan Hijau dalam proyek Kemakmuran Hijau dukungan Millenium Challenge Account Indonesia (MCA Indonesia).  Saat ini sedang melaksanakan Program GADING di Pulau Sumba. Program GADING (Gathering and dissemination of information and green knowledge for a sustainable integrated farming workforce in Indonesia). Program GADING mengarahkan pada pengembangan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja berbasis pada penelitian untuk pembangunan berkelanjutan dengan memperkenalkan pendekatan pertanian campuran dalam rangka mengoptimalkan sumber daya, kebijakan, sosio-kultural dan ekonomi lokal.

Program GADING tidak hanya bertujuan untuk merangkul tenaga kerja di bidang pertanian, tetapi juga melakukan penyebaran pengetahuan dan keterampilan kepada para praktisi, tenaga pengajar di bidang pertanian, dan badan pemerintah, dengan menyediakan kerangka kerja pembangunan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan pada kegiatan-kegiatan ekonomi lokal yang selama ini sudah berjalan.

Kontribusi program ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada kesejahteraan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan dengan memperkenalkan Lemna sebagai tanaman yang potensial dan menguntungkan. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain menerapkan pemberian Lemna pada siklus pakan ternak untuk menghasilkan tumbuh kembang hewan ternak yang lebih cepat dan sehat, dan mengembangkan keterampilan di bidang pertanian organik. Melalui Program GADING para peternak dapat didorong untuk meningkatkan nilai guna bio-slurry yang didukung oleh keuangan mikro, selain itu pelaksanaan program akan berperan dalam mitigasi perubahan iklim dengan mengoptimalkan limbah sebagai energi terbarukan dan diperuntukkan untuk pertanian campuran.

“Program GADING ini sangat membantu kami untuk mendongkrak jumlah pembangunan reaktor biogas. Orang sekarang mau bangun biogas bukan saja butuh apinya, tetapi lebih banyak orientasi ke penggunaan ampasnya/bio-slurry sebagai pupuk organik,” jelas Ibu Arina Rupa Rada di sela-sela kegiatan ini.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini bertujuan untuk mempersiapkan para pelaku bisnis bio-slurry maupun calon penerima insentif dari Program GADING untuk segera mengerjakan berbagai bisnis berbasis bio-slurry, mulai dari pengembangan kolam Lemna, kolam ikan sampai penjualan bio-slurrynya. Peserta yang terlibat sebanyak 35 orang dan berasal dari lokasi Program GADING di Sumba Timur: Kelurahan Kambaniru, Matawai, Mauhau, Kambajawa, Lewa Paku  dan Desa Wanga, Patawang, Mutu Nggeding, Matawai Atu, Watuhadang, Umalulu, Kamanggih, Kataka, Kambuhapang, Lumbu Kore, Watupuda, Wuku kalara.

Selain menghadirkan narasumber Bapak Bernardus Missa, Ibu Martina Tara Amah sebagai pebisnis bio-slurry aktif dan Bapak Ir. Y M Hudioro dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumba Timur, kegiatan ini juga menghadirkan sebanyak 6 orang dosen yang merupakan tim pengajar dari Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Studi Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA) Sumba yang dikoordinatori oleh Ibu Anastasia Diana Tumimomor, SE. Msi untuk memfasilitasi kegiatan ini.

“Kita memang berkolaborasi dengan perguruan tinggi lokal dalam kegiatan ini karena memang mereka yang berkompeten untuk membagikan sejumlah pengetahuan terkait pengembangan bisnis bio-slurry ini bagi petani. Sebelumnya tim ini juga telah kami libatkan dalam kegiatan penyusunan proposal bisnis bagi para pelaku bisnis bio-lsurry maupun calon penerima insentif dari Program GADING ini. Jadi mereka memang sudah paham dengan kondisi pesertanya” demikian menurut Bapak Kornelis K Lidjang selalu Organic Fertilizer Officer (OFO) dari YRE.

Untuk hari pertama, kegiatan difokuskan pada berbagi pengalaman terkait bisnis bio-slurry dari Bapak Bernardus dan Ibu Martina kepada semua peserta yang adalah pengguna biogas namun belum semuanya menjalankan bisnis bio-slurry.

“Sejak awal tahun 2017 saya sudah menjual bio-slurry cair sebanyak 4000 liter dengan harga Rp. 10.000/liter, uang ini saya gunakan untuk biaya kuliah anak. Selain itu saya menjual juga berbagai tanaman dengan memanfaatkan bio-slurry, misalnya ada cabe seharga Rp 50.000/pot dan juga pohon buah naga yang sudah bercabang seharga Rp 100.000/polybag. Dengan bio-slurry ini benar-benar saya rasakan bahwa uang itu datang sendiri ke rumah” begitu pengalaman yang dibagikan oleh Bapak Bernardus.

Lain lagi cerita yang datang dari Mama Martina. “ Saya tahun ini dapat padi sudah 1 ton, dedak 200 kilogram dan beberapa ekor ayam hasil menukarkan bio-slurry. Jika pembeli bio-slurry yang datang tidak mempunyai uang tunai maka dia boleh menukarkan dengan harga setara untuk barang-barang yang dia miliki. Sayuranpun bisa untuk alat barternya. Hasil penjualan ini saya gunakan untuk biaya kuliah anak,” cerita Mama Martina penuh semangat.

Dalam salah satu slide presentasinya Ibu Martina juga menjelaskan beberapa hal yang mendukung peluang bisnis bio-slurry, yaitu kebijakan Menteri Pertanian tentang penggunaan pupuk 5:3:2, berkurangnya subsidi pemerintah terhadap pupuk kimia, kesulitan mendaptkan pupuk subsidi di pasaran, meningkatnya kebutuhan pupuk di masyarakat untuk peningkatan produktifitas tanah, bio-slurry dapat dibarter dengan barang serta mudah didapat dan diolah serta sudah adanya relasi denga berbagai pihak untuk memudahkan pemasarannya.

Untuk kebijakan Menteri Pertanian 5:3: 2, Mama Martina menjelaskan bahwa ada rekomendasi dari Menteri Pertanian sendiri untuk memanfaatkan pupuk organik dengan perbandingan 500 kilogram organik, 300 kilogram NPK (Nitrogen Fosfor Kalium) dan 200 kilogram urea untuk lahan seluas 1 hektar. Pupuk organik yang dimaksud bisa kompos, bokashi maupun bio-slurry.

Sementara Pak Hudioro dari DKP berbagi materi terkait aplikasi Lemna dalam mendukung bidang perikanan. Salah satu fokus dari Program GADING adalah memperkenalkan Lemna sebagai tanaman potensial dan menguntungkan untuk pakan ternak, baik ikan, babi, dan lain-lain.

Untuk hari kedua, kegiatan difokuskan pada pemberian materi oleh tim UNKRISWINA tentang kewirausahaan, analisis SWOT, Konsep Pemasaran, Pembukuan Usaha dan Perencanaan Usaha serta simulasi pengisian form perencanaan usaha.

Menurut salah satu fasilitator Bapak Lusianus Heronimus Kelen, SE, MSc kegiatan ini sangat luar biasa. “Apa yang kami bagikan sebenarnya secara garis besar sudah juga dilakukan oleh para pelaku bisnis bio-slurry ini. Kami hanya sedikit memberikan beberapa pengetahuan yang secara praktis bisa mereka gunakan untuk meningkatkan produktifitas usahanya. Kami sendiri juga baru paham tentang bio-slurry dan dampaknya ketika turun lapangan untuk pembuatan proposal bisnis kemarin, bahkan mahasiswa yang terlibat sebagai enumerator juga teman dosen kami langsung menjadikan ini sebagai bahan untuk menulis skripsi dan penelitian dosen. Kolaborasi ini membawa banyak inspirasi untuk kami di perguruan tinggi,” kata Pak Sinyo.

Sementara salah seorang peserta dari Lewa, Bapak Leksi Lukas Lomi menyampaikan bahwa hal-hal yang disampaikan dalam kegiatan ini sangat bermanfaat. Berbagai informasi baru didapatnya khususnya untuk pengembangan kolam ikan karena beliau berfokus di bisnis ini nantinya. “Dulu ketika saya bangun biogas dengan sebagian biaya harus disiapkan sendiri saya merasa besar sekali pengorbanan yang harus dikeluarkan, namun ketika sudah menggunakan biogas ternyata hasilnya malah memberikan nilai tambah. Selain api saya juga mendapatkan pupuk organik gratis untuk sawah. Bahkan sekarang didukung lagi untuk mengembangkan kolam Lemna juga pelihara ikan,” jelas beliau pada saya.

Beberapa hari yang lalu kita baru saja memperingati hari lingkungan hidup, semoga ke depannya semakin banyak bisnis-bisnis ramah lingkungan seperti ini yang dikembangkan. Mari sayangi bumi lewat green entreprenuership.

(Sumber: http://www.pengetahuanhijau.com/berita/datangkan-uang-ke-rumah-dengan-bioslurry)