Gambar Suparjono, yang hasilnya berasal dari hasil sampingan biogas, atau dikenal sebagai program bio-slurry oleh Yayasan Rumah Energi (YRE) bersama dengan bantuan dan dukungan internasional.

“Mohon maaf tempatnya kotor,” ujar istri Suparjono dengan gugup ketika mengetahui saya menggulung celana panjang dan melangkah diantara kandang sapi dan kandang bebek. Merasa malu dengan halaman belakang miliknya dimana kotoran tujuh ekor sapi tertimbun diantara pohon kelapa dan pohon pisang. Ia mencoba menjauhkan kami dari tempat itu dengan menyajikan secangkir teh manis. Namun limbah ternak sapi itulah tepatnya, yaitu produk ampas biogas yang sudah terfermentasi, oleh Suparjono dikatakan sebagai ‘emas hitam’-nya.

“Coba cium baunya,” desak Suparjono sambil menggengam tanah berwarna coklat tua, yang beraroma tanah subur bercampur kayu. “Dulu saya bekerja keras untuk membuat kompos dari pupuk kandang untuk tumbuh-tumbuhan yang saya tanam, baunya membuat mual dan butuh kerja keras, sekarang saya dapat menghasilkan satu ton produk ini setiap dua minggu sekali,” ujarnya sambil tertawa.

Ampas biogas atau yang dikenal sebagai bio-slurry, adalah fokus utama dari program yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Rumah Energi dengan dukungan dan bantuan internasional. Program yang dikenal sebagai GADING, melengkapi proyek Biogas Rumah (BIRU) yang dilaksanakan oleh Rumah Energi yang sejak 2009 telah memfasilitasi dan memantau pembangunan lebih dari 17.000 unit reaktor biogas di seluruh Indonesia.

Program GADING menerima pendanaan dari badan pembangunan Amerika serikat yaitu Millenium Challenge Corporation (MCC), yang mendorong pembangunan berkelanjutan sebagai sarana untuk menanggulangi kemiskinan global. Lewat dukungan riset dan teknis dari organisasi spesialis nirlaba asal Belanda Hivos, Program GADING membina pertumbuhan usaha-usaha mikro di sektor pertanian yang telah berjalan. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bersama-sama dengan Rumah Energi, bentuk pembinaan ini dilaksanakan melalui pengembangan biogas dan ampas biogas (bio-slurry).

Agus Setiabudi atau akrab dipanggil Tyo, Organic Fertiliser Officer Program GADING menjelaskan, “Suparjono adalah contoh sempurna untuk program yang kita laksanakan, setiap bagian dari lahan pertaniannya mendapat manfaat dari ampas biogas.”

“Ampas biogas yang masih segar menjadi media bagi cacing tanah untuk berkembang biak,” jelas Tyo, “menjadi bahan pakan untuk bebeknya yang berjumlah lebih dari 300 ekor agar dapat menghasilkan telur berkualitas setiap hari. Setiap beberapa minggu ampas biogas yang sudah kering dikumpulkan dan digunakan sebagai kompos yang subur dan pupuk untuk tanaman sayur-sayuran. Tanaman ini dipanen sebulan sekali, dan beberapa diantaranya digunakan sebagai pakan ternak sapinya.  Sebelum sapi-sapi tersebut dijual untuk dimanfaatkan dagingnya setahun sekali, sapi-sapi tersebut memasok rumah tangganya dengan bahan bakar untuk keperluan memasak, bersyukur dengan adanya reaktor biogas yang berada di halaman belakang rumahnya, yang dapat selalu kembali terisi kembali dengan ampas biogas segar.”

Suparjono sangat bersemangat untuk berbagi pengalamannya, “pembelian pupuk kimia juga telah berkurang, sekantong pupuk harganya bisa mencapai Rp 250.000,- (kurang lebih sama dengan seperempat UMR untuk daerah Yogyakarta) dan masih perlu dicampur dengan berbagai macam bahan untuk mendapatkan semua zat hara yang dibutuhkan. Ampas biogas sudah mengandung mineral lengkap di dalamnya. Kemungkinan saya telah dapat mengurangi setengah dari penggunaan pupuk kimia.”

Semua manfaat ini dapat diperoleh dari produk limbah (pupuk kandang) yang menunjukkan tujuan pengelolaan lingkungan seperti yang diharapkan oleh Program GADING. Menurut laporan PBB yang berjudul Livestock’s Long Shadow, pupuk kandang dalam jumlah besar dapat merugikan lingkungan, dengan menyebabkan eutrofikasi (pencemaran air akibat berlebihnya zat hara dalam air) terhadap sungai-sungai maupun lautan, selain itu juga mencemari air tanah dan saluran irigasi. Di sebuah provinsi kecil seperti Yogyakarta, jumlah ternak mencapai 300.000 ekor. Suparjono adalah salah satu dari sedikit peternak yang tidak akan membuang limbah ternaknya ke wilayah perairan.

Hubungan antara Program BIRU, Program GADING, dan sekitar 12.000.000 ternak di Indonesia, sangat menjanjikan.  Bersyukur atas penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Hivos, program ini sekarang mendorong pengembangan lemna (duckweed), tanaman air dengan kandungan protein enam kali lebih banyak dibandingkan kedelai untuk setiap volumenya, yang dapat dikembangkan dengan menggunakan ampas biogas sebagai pupuk.

Kolam berukuran 12 m3 saat ini sedang dibangun di tempat tinggal Suparjono. “Dengan lemna saya dapat mengurangi pembelian pakan kedelai dalam jumlah besar guna keperluan pakan ternak bebek,” ujarnya, “satu bukti lagi tentang manfaat dari ampas biogas.”

Guna menggali lebih banyak informasi, saya bertanya kepada Suparjono berapa yang diperolehnya dari hasil penjualan telur bebek, ia menjawab, “lumayan.” Dengan gaya khas Jawa yang bersahaja, ditambah dengan senyuman, ini maknanya tentu ‘banyak.’ Mungkin untuk orang lain yang tampak hanyalah produk limbah (ampas) berwarna gelap, tetapi bagi mereka yang berkesempatan berkunjung dan mengamati halaman belakang tempat tinggal Suparjono di Bantul, Yogyakarta, jelas melihat bahwa ia telah menemukan emas.

(Sumber: http://news.asiaone.com/news/asia/promising-black-gold-indonesia)