Pak Itang, demikian panggilan akrabnya merupakan salah satu peternak sapi perah di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pria kelahiran Garut, 45 tahun silam ini tinggal bersama istrinya, Ida Yuningsih (39 tahun) dan kelima anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap pagi dan sore Pak Itang harus memerah susu sapinya dan mengantarkannya ke pengepul susu untuk selanjutnya dibawa ke KPGS (Koperasi Peternak Garut Selatan). Susu sapi Pak Itang dijual dengan harga Rp. 4.200,- per liter. Penghasilan dari penjualan susu ini tentu belum cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, Pak Itang tetap semangat menjalani aktivitasnya sebagai peternak sapi perah.

Kini kerja kerasnya pun terbayar sudah, Pak Itang menjadi salah satu contoh peternak yang tidak hanya menjual susu, namun juga sukses membudidayakan cacing dan menjual pupuk kascing (pupuk bekas media cacing). Hal ini berawal dari adanya Program Biogas Rumah (BIRU) yang bekerja sama dengan KPGS untuk membangun reaktor biogas bagi peternak dengan sistem cicilan. Reaktor biogas ini menggunakan kotoran sapi sebagai bahan bakunya sehingga kohe (kotoran hewan) dari sapi-sapi Pak Itang yang biasanya dibuang menjadi termanfaatkan. Selain itu, gas metana yang dihasilkan dari reaktor dapat dipakai untuk memasak menjadi alasan Pak Itang mau dibangunkan reaktor 6 m3 ini.

“Keringanan dapur, gak menggunakan kayu bakar lagi. Kadang-kadang tetangga (adik) juga bisalah masak-masak saik,” ucapnya ketika ditanya kenapa mau dibangunkan reaktor biogas.

Semenjak memiliki reaktor biogas pada tahun 2013, keluarga Pak Itang tidak perlu membeli tiga tabung gas LPG 3 kg setiap bulannya. Selain itu, Bu Ida, istri Pak Itang menjadi memiliki kegiatan tambahan selain menjadi ibu rumah tangga, yaitu membantu suaminya membudidayakan cacing. Bu Ida menjadi salah satu dari dua wanita yang membudidayakan cacing di Desa Mekarjaya dan sudah memperoleh keuntungan dari penjualan cacing dan pupuk kascing.

Media budidaya cacing ini menggunakan bio-slurry (ampas biogas) padat yang diletakkan di atas triplek beralaskan karung yang kemudian diberi bibit cacing. Pakan cacing diberikan setiap 4-5 hari sekali. Sebelumnya, Pak Itang menggunakan bio-slurry untuk pakan cacing. Namun, setelah mencoba dan ternyata kohe sapi juga bisa jadi pakan cacing, Pak Itang memutuskan untuk tidak menggunakan bio-slurry sebagai pakan cacing. Bio-slurry akan dijadikan pupuk untuk dijual dan sebagian digunakan untuk kebun Pak Itang. Kohe sapi yang akan diberikan ke cacing harus didiamkan 3 hari sampai seminggu dulu untuk menghilangkan kandungan gasnya.

Untuk memberi pakannya pun ada triknya. Pertama-tama media cacing dipinggirkan ke kedua sisi sehingga terbentuk ruang di bagian tengah. Lalu, kohe yang sudah didiamkan dituangkan ke bagian tengah tadi, nantinya cacing akan berpindah menuju kohe yang baru dituangkan. Media cacing yang sudah kering (sudah habis dimakan cacing) dapat menjadi pupuk kascing. Pupuk kascing ini sangat bagus untuk tanaman karena mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur kimia makro maupun mikro yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pak Itang juga menjelaskan keunggulan kascing dibandingkan pupuk ayam. “Kalau pupuk ayam perlu didiamin dulu 1 minggu kadang-kadang 2 minggu baru ditanami tanaman, tapi kalau kascing ini bisa langsung disemai,” ujarnya.

Pemanenan cacing dilakukan setiap sebulan sekali. Cacing siap panen adalah cacing yang sudah besar dan mempunyai gelang (klitelum) berwarna putih pada tubuh bagian depan. Cara memanennya pun cukup mudah, hanya dengan meletakkan media di bawah sinar matahari maka cacing akan bergerak semakin ke bawah membentuk koloni (menggumpal) sehingga media di atasnya dapat diambil hingga tersisa cacingnya saja di bawah. Ketika ditanya siapa yang memanen pupuk kascing, Pak Itang menjawab sambil tersenyum. “Seringnya ibu, saya juga bantu-bantu“ ujarnya.

Menurut Pak Itang, 1 butir telur cacing menghasilkan 5-6 anak cacing dan setiap 5 kg indukan cacing dapat memberikan hasil panen sebesar 20 kg cacing per bulan. Cacing ini dijual dengan harga Rp. 25.000,-  per kg ke tempat pemancingan, kosmetik, dan lain-lain. Sedangkan untuk pupuk kascing dijual dengan harga Rp. 20.000,- per karung (12,5 kg).

Dalam sebulan, Pak Itang dan Istrinya dapat memperoleh penghasilan Rp. 200.000,- sampai Rp. 500.000,- dari hasil penjualan pupuk kascing dan cacing dengan ukuran green house berukuran 8 x 5 meter. Keberhasilan Pak Itang dan istrinya ini memotivasi tetangganya untuk mulai membudidayakan cacing dan ikut merasakan dampak ekonomi yang diberikan dari pemanfaatan bio-slurry. (Venessa Damanik)