pengetahuanhijau.com, Nusa Tenggara Barat - Salah satu sumber keunggulan kompetitif atau daya saing suatu daerah adalah inovasi. Hal inilah yang terus didorong oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara dengan menekankan arah pembangunan daerah pada penguatan potensi lokal yang menjadi pendukung utama pelaksanaan pembangunan economic-based knowledge. Tidak bisa kita pungkiri bahwa kemajuan teknologi telah mendorong lahirnya berbagai inovasi, yang sering kita sebut dengan inovasi berbasis teknologi.  Akan tetapi selain itu, penting dilakukan peningkatan pengetahuan non tekhnologi sebagai kekuatan pendorong inovasi. Pengetahuan yang digunakan untuk inovasi semakin komposit sejalan dengan pergeseran nilai-nilai dan praktik masyarakat.

Salah satu bentuk inovasi tersebut dapat kita temui di Dusun Sentul Asli Desa Pendua. Awalnya desa ini memanfaatkan limbah ternak sapi sebagai sumber energi alternatif  pengganti LPG. Pengenalan biogas kepada masyarakat dilakukan oleh pemerintah derah bekerjasama dengan program BIRU (Biogas Rumah). Desa Pendua dan beberapa desa lainnya di Kabupaten Lombok Utara juga menjadi sasaran pendampingan tersebut. Namun, di desa ini anomali warganya untuk memanfaatkan kotoran hewan cukup tinggi sehingga hampir seluruh rumah warganya dilengkapi dengan reaktor Biogas. Tidak heran jika tahun 2016 Desa Pendua, khususnya Dusun Sentul Asli mendapatkan Predikat sebagai Desa Mandiri Energi.

Kini di Desa Pendua pemanfaatan kotoran hewan tidak terbatas pada pemanfaatan sebagai sumber energi saja, tetapi ampas dari biogas juga sudah dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Baik dalam bentuk padat dan juga cair. pupuk tersebut sudah diterapkan di sebagian besar lahan pertanian yang mengembangkan hortikultura, penggunaan pupuk tersebut dipelopori oleh kelompok tani HORSEPEN (Hortikultura Sentul Pendua) yang kini mulai mengembangkan pertanian organik.

Sampai disini, apa yang dilakukan oleh masyarakat Sentul Asli juga bisa kita temui di tempat lain. Tapi ternyata inovasi berbasis pengetahuan dan pengalaman belum berakhir. Pendampingan yang dilakukan oleh Hivos dan Yayasan Rumah Energi melalui program GADING yang di danai oleh MCA Indonesia selama beberapa bulan terakhir telah mengubah mindset masyarakat untuk terus mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya lokal yang mereka miliki. Sudah lama sebenarnya, warga Sentul Asli yang berada di kaki Rinjani ini mengimpikan mengembangkan budidaya ikan air tawar, karena melihat potensi sumber air yang cukup melimpah. Namun terkendala pada tingginya harga pakan ikan serta akses ke ibukota kecamatan yang cukup sulit membuat impian tersebut belum dapat terealisasi.

“Tidak ada yang tidak mungkin di bawah kolong langit ini,” demikian ungkap Pak Alwan membuka cerita tentang perkembangan di dusun yang Ia pimpin tersebut. Mimpi kami untuk membudidayakan ikan air tawar tidak harus berhenti hanya karena terkendala harga pakan. Pemahaman dan pelatihan pemanfaatan sumber daya lokal sebagai sumber pakan yang kami dapatkan dari teman-teman GADING seolah menghidupkan kembali mimpi-mimpi kami. Betapa tidak,  Kembang Aiq (Lemna), salah satu sumber pakan yang memiliki kandungan protein sangat tinggi tersebut ternyata melimpah di tempat kami. Awalnya kami menganggap sebagai gulma pengganggu di tanaman padi atau kangkung. Tapi kini tanaman tersebut sudah berada pada kolam-kolam yang khusus dibuat untuk pengembangbiakan. Setelah diuijicobakan pada kolam milik kelompok Horsepen serta melihat progress perkembangan ikan setelah diberi pakan Lemna, kolam-kolam ikan dan kolam Lemna kini bisa kita temui di beberapa pekarangan milik warga.

Lantas, apa hubungannya dengan biogas atau slurry? Iya, tentu ada. Setelah sebelumnya warga Sentul Asli memanfaatkan slurry (ampas biogas) padat sebagai pupuk, mereka juga memanfaatkannya sebagai media tanam beberapa tanaman. Seperti pembibitan kayu dan budidaya stroberi. Hasilnya sangat bagus, bibit yang ditanam tumbuh lebih cepat, stroberi menghasilkan buah yang cukup besar padahal hanya menggunakan varietas lokal saja. Melihat hasil tersebut, masyarakat berpikir jika slurry juga digunakan sebagai media pengembangan lemna di kolam-kolam yang mereka buat tentu hasilnya lebih bagus. Benar saja, setelah lubang dibuat dan diberi lapisan terpal, sebelum diisi air kolam tersebut terlebih dahulu diisi dengan  slurry padat. Beberapa lemna ditebar sebagai bibit, dalam waktu semalam kolam tersebut sudah penuh dengan lemna dan siap diberikan ke ikan sebagai pakan. Lemna pada dasarnya memiliki pertumbuhan yang cukup cepat, tapi dengan menggunaan slurry semakin mempercepat pertumbuhannya. Pemanfaatan Lemna dan slurry sebagai pakan ikan sangat membantu petani dalam melaksanakan rutinitas harian mereka serta cukup menghemat waktu.

Inovasi berbasis pengetahuan yang terus dilakukan oleh masyarakat Sentul Asli tersebut mendapat perhatian dari pemerintah daerah sehingga menjadi salah satu agenda yang akan dikunjungi oleh Wakil Bupati dalam kegiatan monitoring dan evaluasi pembangunan daerah Lombok Utara.  Agenda tahunan ini bertujuan untuk melihat progress dari program pembangunan yang dilakukan selama tahun 2016, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten Lombok Utara atau mitra pembangunan lainnya. Salah satunya adalah program yang dilaksanakan oleh MCA Indonesia melalui mitra-mitra penerima hibah di kabupaten Lombok Utara.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Lombok Utara Bapak H. Sarifudin, SH, MH sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Pendua khusunya Sentul Asli. Inovasi yang selalu didorong selama ini oleh pemerintah daerah dalam setiap kesempatan dan program, tapi ternyata di dusun Sentul asli justru inovasi tersebut muncul dari masyarakatnya sendiri. Sekeras apapun pendampingan yang dilakukan jika tidak ada kemauan dari masyarakat juga akan sulit dilakukan. Tapi disini, program pendampingan yang dilakukan dan dengan kemauan yang kuat dari warga untuk berubah berjalan bersama sehingga masyarakat terus mampu menggali dan mengembangkan segala sumber daya yang mereka miliki untuk kehidupan yang lebih baik.

Wakil Bupati Lombok Utara juga menyempatkan diri untuk berkeliling melihat kolam ikan dan kolan Lemna serta reaktor biogas di rumh salah satu warga, bahkan Beliau juga mencoba untuk memantik korek mencoba menyalakan lampu yang menggunakan biogas disalah satu rumah warga. Rona kepuasan terlihat dari wajah Beliau setelah kunjungan selesai. Semakin sumringah setelah mendengar cerita Pak Alwan yang juga teman sekolahnya ketika SMA dulu bahwa Kelompok Tani Horsepen memiliki rencana besar. Yaitu membuat rumah makan, dimana sayur dan segala bentuk bumbu diambil dari lahan yang dimiliki anggota kelompok. Demikian pula dengan ikan, akan di pasok dari kolam-kolam ikan penduduk. Untuk itu, kelompok kini sudah mulai dengan menerima pesanan makan siang  jika ada tamu yang akan berkunjung. “Menu kami sudah di coba tadi oleh teman-teman,” ujarnya bangga sambil menunjuk ke arah kami.

“Apa yang saya dapatkan di dusun ini, bukan hanya untuk melihat keberhasilan dari pelaksanaan program pembangunan yang dilakukan selama ini. Tetapi juga bagaimana agar keberhasilan disini dapat diterapkan ditempat lain. Karena itu kunjungan ini menjadi sangat penting bagi kami,” ungkap Pak Syafrudin ketika mengakhiri kunjungan di Desa Pendua. Sebelum beranjak ke dalam mobil, jalan di Desa Pendua juga menjadi sorotan beliau dan berjanji bahwa perbaikan jalan tersebut akan menjadi prioritas perbaikan di tahun 2017 ini karena dinilai sangat parah sehingga menghambat akses masyarakat ke desa dan ibukota kecamatan.

(Sumber: http://www.pengetahuanhijau.com/berita/pentingnya-inovasi-dalam-pembangunan)