Petani Kembangkan Biogas dan Mikrohidro

Kompas - Rabu, 16 Mei 2012 | 03:09 WIB

SALATIGA, KOMPAS - Petani yang tergabung dalam Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah atau SPPQT terus mengembangkan energi alternatif. Caranya dengan mendorong penggunaan biogas dan menghasilkan listrik dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Selain ramah lingkungan, pengembangan energi alternatif itu membantu petani mendapatkan penghasilan lebih.

Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang berlokasi di Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu mampu menghasilkan listrik hingga 170 kVA. PLTMH itu dibangun dengan dana hibah dari Hivos dan pendampingan dari Institut Bisnis dan Kerakyatan (Ibeka).

Penandatanganan prasasti PLTMH oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dilakukan di Kota Salatiga, Selasa (15/5), bersamaan dengan pembukaan Kongres IV SPPQT.

Direktur Ibeka Tri Mumpuni mengatakan, ide awalnya adalah keinginan agar desa memiliki penghasilan tetap. Ketika ada sungai yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke lokasi lebih rendah, itu adalah potensi untuk PLTMH.

PLN pun sepakat membeli listrik yang dihasilkan PLTMH Banyubiru sebesar Rp 656 per kWh. Jaringan PLTMH telah masuk ke jaringan PLN. Jika dihitung, penghasilan dari penjualan listrik itu berkisar Rp 50 juta per bulan. PLTMH tersebut dibangun dengan investasi Rp 4,8 miliar dari lembaga Hivos.

Ketua SPPQT, Khadziq Faisol, menjelaskan, seperempat dari hasil penjualan listrik itu akan digunakan untuk petani dan warga di sekitar PLTMH, dan sisanya untuk pengembangan SPPQT serta pengembangan PLTMH di lokasi lain.

Sudah terbangun
Selain itu, SPPQT juga berupaya mengembangkan penggunaan biogas di tingkat rumah tangga. Sejauh ini sudah ada 300 unit biogas rumah yang terbangun di 11 kabupaten/kota di Jateng. SPPQT memberi subsidi bagi anggota yang ingin membangun instalasi biogas digester sebesar Rp 2 juta.

Direktur CV Qaryah Thayyibah, Turjangun, mengatakan, biaya untuk membangun satu instalasi dengan kapasitas maksimum 4,0 meter kubik untuk dua ekor sapi mencapai Rp 5,7 juta. Dipotong subsidi, maka dana yang harus disediakan Rp 3,7 juta.

"Tidak semua petani mampu menyediakan dana sebesar itu. Padahal, kalau petani bisa memiliki biogas digester, sama sekali tidak ada limbah yang terbuang. Kami berharap ada lembaga yang bersedia membiayai," kata Turjangun.

Dari Batam, Kepulauan Riau, dilaporkan, intensitas pemadaman listrik meningkat serta diikuti kelangkaan solar. Namun, dicurigai solar tidak dipakai untuk bahan bakar generator.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi Batam Ahmad Hijazi mengatakan, setiap hari ada pemadaman listrik di berbagai wilayah di Batam dengan waktu bervariasi.

Manajer Penjualan Pertamina Wilayah I Kepri, I Ketut Permadi, mengatakan, dua pekan terakhir memang ada lonjakan konsumsi. Pertamina memastikan pasokan tetap normal. (UTI/RAZ)

Sumber: www.kompas.com