Biogas bisa mengatasi permasalahan limbah ternak
Peternak memanfaatkan energi biogas yang berasal dari kotoran sapi untuk memasak air perangsang keluarnya susu saat memerah di salah satu peternakan di Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/9).
Peternak memanfaatkan energi biogas yang berasal dari kotoran sapi untuk memasak air perangsang keluarnya susu saat memerah di salah satu peternakan di Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengurangi ketergantungan impor bahan bakar salah satunya dapat dilakukan dengan pemanfaaatan energi baru terbarukan (EBT) di level rumahan. Salah satunya, mengembangkan teknologi Biogas Rumah (BIRU).

BIRU merupakan salah satu sumber EBT yang ramah lingkungan dan berkelanjutan ditujukan kepada masyarakat lokal melalui pengembangan sektor yang mandiri dan berorientasi pasar.

Penggunaan limbah menjadi bahan baku biogas menjadi salah satu keunggulannya, bahan bakunya bisa berupa kotoran binatang (bebek, sapi, ayam, kerbau, gajah, kambing) , tumbuh-tumbuhan (jerami padi, gandum, eceng gondok, batang jagung) bahkan ampas tahu. Sehingga limbah tidak percuma sebaliknya menjadi berkah, masyarakat sekitar mendapatkan gas gratis untuk penggunaan sehari -hari.

"Program ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan limbah ternak, khususnya manure dengan memanfaatkannya menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi", ujar Tody Fedrika, Kepala Seksi Investasi Bionergi, Ahad (21/10).

Sementara itu, Yudha Hartanto, perwakilan Rumah Energi menyampaikan banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari BIRU ini. "Keuntungan BIRU ini banyak sekali seperti gas gratis setiap hari, gas aman bagi pengguna, jaminan nyala api berwarna biru, dapur bersih dan bebas asap, pupuk organik gratis setiap hari serta lebih hemat penggunaan pupuk buatan. Program ini mewujudkan pengelolaan limbah ternak terpadu, produktif, energi, air dan lingkungan bersih", papar Yudha.

Program BIRU ini melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Kerjasama Kementerian ESDM dengan Pemerintah Belanda melalui Hivos, pemerintah membangun reaktor biogas skala rumah tangga yang selain dapat dimanfaatkan untuk memasak dan penerangan, slurry yang dihasilkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Total reaktor biogas yang terbangun Oktober 2009 - September 2017 wilayah capaian program ini mencakup 10 provinsi yaitu Bali, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan telah mencapai 21.423 unit berasal dari program kerja sama Hivos. Sementara dari APBN telah terbangun 10.433 unit Biogas yang tersebar di Indonesia.

"Kedepannya biogas diharapakan tidak sekedar dari milik peternak juga limbah rumah tangga, aksesnya tidak hanya berhenti dari program-program pemerintah, seperti selayaknya bapak ibu punya mobil maupun motor, ada lembaga keuangan yang dapat memberikan pembiayaan baik cash maupun cicilan, sehingga biogas dapat diakses lebih cepat", tutur Yudha.

Sumber: Replubika