Inovasi Pertanian Adaptasi Iklim dan Pemuda

25 Maret 2020

Melihat kepercayaan pemerintah pada kaum milennial sehingga mempunyai staf khusus yang rata-rata adalah anak millennial, kini millennial dinilai sangat tekun dan lebih giat dalam mempelajari banyak hal dan menyatukannya dengan kemajuan teknologi saat ini. Hal ini semakin memperkuat bahwa millennial mampu menguasai banyak sektor, salah satunya adalah sektor pertanian.

Dalam berita yang berjudul “Pesan Mentan ke Millennial: Tak Perlu Keahlian Khusus Berkiprah di Sektor Pertanian”, dan diterbitkan oleh Liputan6.com[1], Mentri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan: “Untuk menjadi profesional dari perkembangan bisnis yang ada dan pertanian tidak membutuhkan skill khusus, tapi membutuhkan tekad dan kemauan. Jadi mau insinyur, sarjana kedokteran, sarjana hukum, sebenarnya terbuka untuk menjadi petani-petani atau kelompok bisnis tani yang ada”. Beliau sangat mempercayai millennial yang menurutnya mempunyai tekad yang keras dalam mempelajari banyak hal termasuk pertanian ini.

Mentan pun menambahkan bahwa pertanian adalah suatu peluang bisnis yang sangat terbuka pada saat ini, dengan didukung oleh ruang dan pendekatan kemajuan teknologi yang begitu pesat. Beliau juga siap untuk membuka ruang-ruang baru untuk millennial yang tertarik pada bidang pertanian.

Pada awal bulan Maret 2020, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSP) mengadakan pertemuan dengan bersama 30 orang Petani Pengusaha Millennial pembangunan pertanian di Bogor. Dikutip dari Liputan6.com[2], Petani Pengusaha Millennial ini dinobatkan menjadi Duta Millennial karena nilai produksi dan pendapatan mereka sudah masuk dikategorikan sukses bahkan banyak yang sudah ekspor.

Yang menjadi keunggulan, Petani Pengusaha Millennial adalah petani pengusaha namun kategori umur rata-rata dibawah 40 tahun dan sebab itu digolongkan millennial. Duta millennial ini berasal dari petani pengusaha pertanian dari berbagai komoditas, seperti Hortikultura, Peternakan, Perkebunan, Tanaman Pangan, Penangkar Bibit, dan Pengolahan hasil Produk pertanian yang sudah berhasil mereka pasarkan hingga mancanegara.

Salah satu user biogas yang berhasil menggunakan bio-slurry sebagai penopang pertaniannya, Benua Antartika, termasuk millennial yang tak hanya berperan dalam pertanian namun juga mitigasi krisis iklim dengan biogas. Benua dan keluarga memiliki usaha yang diberi nama Hamengku Sekaring Bhumi Farm (pertanian dan peternakan sapi perah). Menghasilkan produk seperti kopi, durian, alpukat, susu, dll. Selain itu juga menanam dan menjual rumput odot yang dipupuk bio-slurry padat untuk pakan sapi perah.

Sejak pertengahan tahun 2016 menjadi mitra KUD Kertajaya sebagai penyedia rumput odot untuk pakan sapi perah anggota KUD Kertajaya dengan sistem kontrak. Lahan rumput yang dimiliki seluas 3-4 Ha ditanami odot dan semua hasilnya  dijual ke KUD Kertajaya. Rumput dibeli dengan harga pasar antara Rp 300 – Rp 450/kg odot. Harga rumput tergantung musim, di saat kemarau harga rumput mahal sedangkan di musim hujan harga rumput cenderung turun. 1 Ha lahan bisa menghasilkan 5.000 kg (kemarau) sampai 7.000 kg (penghujan) odot. Keuntungan bersih dari menjual odot sekitar Rp 40.000.000/tahun. Karena odot dipupuk menggunakan bioslurry padat sehingga menghemat biaya untuk membeli pupuk NPK sekitar Rp 2.280.000/tahun dan penghematan pengeluaran untuk membeli pupuk Urea sekitar Rp 465.000/tahun. Di rumah, Benua juga membuka Gerai Rumput Odot yang juga menjadi mitra KUD Kertajaya sehingga hanya melayani pembelian rumput odot khusus ke anggota koperasi.

Benua juga merasakan langsung penghematan tabung LPG dari penggunaan biogas, karena setiap hari harus memasak makanan untuk 15 orang (5 orang anggota keluarga ditambah 10 orang yang bekerja di kandang dan ladang) dan untuk memanaskan air jika mau memerah susu serta menyeterilkan peralatan perah sehingga bisa menghabiskan 1 tabung LPG 12 kg dalam waktu 3-4 hari, total 8 tabung LPG dalam 1 bulan. Harga per tabung LPG 12 kg sekitar Rp 150.000. Sehingga total pengeluaran untuk membeli LPG Rp 1.200.000/bulan, sekarang tidak perlu membeli LPG lagi karena sudah ada biogas.

[1] https://www.liputan6.com/bisnis/read/4201314/pesan-mentan-ke-millennial-tak-perlu-keahlian-khusus-berkiprah-di-sektor-pertanian

[2] https://www.liputan6.com/bisnis/read/4193100/kepala-bppsdmp-kopdar-dengan-duta-millennial-pembangunan-pertanian-di-bogor

Share this: