Banjir Awal Tahun Adalah Bentuk Krisis Alam di Indonesia

14 Januari 2020

Oleh: Nada Nabila

Selama bulan Oktober hingga Maret, Indonesia melalui musim hujan. Namun, dengan pemanasan global yang terus meningkatkan suhu planet bumi, maka perubahan iklimpun terjadi yang membuat kedua musim di Indonesia menjadi semakin ekstrim. Contohnya seperti hujan yang telah mengguyur Indonesia pada awal tahun 2020 yang menyebabkan banjir di beberapa titik di Jabodetabek dan longsor. Hal ini meluluh lantakkan segala aktifitas dan operasional  di berbagai area pusat kota yang tak hanya merugikan individu masyarakat, namun juga sector public dan pemerintah.

Curah Hujan Tertinggi dalam 154 Tahun

Menurut Guru Besar Hidrologi Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), Joko Sujono, curah hujan yang mengguyur wilayah Jakarta pada awal tahun 2020 mencapai 180 juta kubik dengan jumlah air dikatakan setara dengan 72 ribu kolam renang standart ajang olimpiade. Ada perubahan pergerakan curah hujan dalam sepuluh tahun terakhir. Frekuensi di atas ratusan milimeter per hari semakin meningkat dengan intervalnya yang lebih singkat. Riset tersebut memasukkan curah hujan ekstrem dalam salah satu rekomendasi yang perlu diwaspadai. Benar saja, beberapa hari lalu curah hujan ekstrem terjadi merata di Jakarta, bahkan intensitas tertinggi mencapai 377 milimeter per hari terekam di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Konon ini merupakan curah hujan tertinggi di Jakarta semenjak 1866.

Dengan rekor curah hujan yang belum pernah terjadi sebelumnya, hal ini bias dikatakan sebagai bencana hidrometeorologi. Apakah yang dimaksud dengan bencana hidrometeorologi? Bencana hidrometeorologi yaitu kejadian bencana akibat fenomena meteorologi atau cuaca seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin merupakan jenis bencana dengan frekuensi dan masivitas tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut memicu risiko banjir, tanah longsor, angin puting beliung, ombak tinggi, gelombang panas, kekeringan lahan ataupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di kutip dari artikel Detik.com yang berjudul  “Krisis Iklim dan Banjir Jakarta”, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang 2019 terjadi 3.768 bencana dengan korban jiwa 349 orang, dengan 99 persen merupakan bencana hidrometeorologi sedang satu persen sisanya merupakan bencana geologi.

Tak hanya dari intansi nasional, bahkan instansi internasional pun ikut bicara mengenai dampak krisis iklim yang mengancam kehidupan dan keberlangsungan aktivitas manusia. Inter Governmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam laporan khusus mereka bertajuk ”Managing the Risks of Extreme Events and Disasters to advance Climate Change Adaptation” telah memuat peringatan mengenai potensi bencana hidrometeorologi akan menjadi ancaman global paling mematikan dalam beberapa dekade mendatang.

Tersangka Utama

Krisis iklim merupakan tersangka utama atas peningkatan potensi bencana yang terjadi yang tentunya diakibatkan oleh perilaku dan denyut peradaban manusia yang terus menggerus alam dan lingkungan. Kerugian besar akibat krisis iklim terutama akan dialami langsung oleh negara-negara berkembang yang terletak di daerah tropis dan sub tropis karena sangat rawan terdampak fenomena alam, contohnya yaitu Indonesia. Terlebih dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya juga amat bergantung pada sumber daya alam yang sensitif terhadap perubahan iklim seperti sektor pertanian dan perikanan. Indonesia merupakan negara kepulauan yang juga rentan dengan peningkatan tingginya permukaan laut akibat krisis iklim.

Kerentanan masyarakat terhadap bencana memang tidak semata dilihat dari faktor cuaca. Dilandanya masyarakat dengan bencana banjir dan longsor terbaru memunculkan kesadaran mengenai urgensi pemerintah dalam mengantisipasi bencana di masa mendatang dengan merencanakan aksi preventif yang tidak pandang bulu, tidak meninggalkan satu kalanganpun. Faktor sosial-ekonomi juga memengaruhi tingkat keterpaparan dan keparahan masyarakat terhadap bencana. Sebagai contoh, penduduk dengan tingkatan sosial-ekonomi terbawah dalam piramida kemakmuran adalah korban bencana ganda yang patut mendapat perhatian utama.

Share this: