Kisah Bu Sayemi: Lemna dan Bisnis Telur Bebek

6 June 2017

Dusun Pagerjuang, sebuah dusun sejuk nan berbukit, terletak di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, yang mayoritas penduduknya beternak sapi perah. Ibu Sayemi, 35 tahun, adalah salah satu peternak lokal binaan Program GADING yang sejak September 2016 telah memiliki usaha ternak bebek petelur yang sangat menjanjikan.

“Selama ini saya sudah mulai menekuni usaha ini (budidaya bebek petelur) walaupun hanya dengan jumlah terbatas. Pelatihan-pelatihan Program GADING membuat saya tahu kalau bio-slurry (ampas biogas) tidak cuma bisa dijadikan pupuk, tapi juga bisa dijadikan bahan campuran pakan alternatif (lemna) untuk ternak unggas maupun ternak besar”, ungkap Bu Sayemi.

Bu Sayemi membudidayakan lemna (duckweed) di kolam seluas 15 m2 di pekarangan belakang rumahnya. Kolam yang dibangun dengan dukungan finansial dari Program GADING tersebut kini menjadi sumber utama pakan tambahan berbagai ternaknya.

Kolam lemna milik Bu Sayemi

Mulanya usaha budidaya lemna ini menghadapi kendala ketika banyak lemna yang mati dimakan predator seperti berudu, keong, dan serangga. Namun, pelatihan dan konsultasi intensif yang disediakan tim GADING secara cuma-cuma berhasil membuat kolam Bu Sayemi dipenuhi lemna siap panen. Tiap harinya Bu Sayemi memanen 2 kg lemna, yang ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan tambahan bagi dua ekor sapi dan 20 ekor bebek miliknya.

Hal ini diatasi dengan memanen lemna yang tumbuh liar di aliran Sungai Opak, Dusun Pagerjurang, bersama ibu-ibu lainnya yang tergabung dalam Rumah Organik. Kini per harinya Bu Sayemi bisa memanen hampir 5 kg lemna: 4 kg untuk pakan sapi dan 1 kg untuk pakan bebek.

Hasilnya luar biasa! Kuantitas susu dari sapi yang rutin diberi pakan lemna meningkat satu liter per hari, demikian pula dengan kualitas susu yang kiat membaik berat jenisnya, yang berarti naik pula kandungan lemak dan proteinnya. Hal ini juga berdampak positif pada pemasukan Bu Sayemi dari penjualan susu karena harga susu yang biasanya Rp. 4.800,- per liter kini menjadi Rp. 5.200,- per liter.

Manfaat lain dari lemna adalah warna kuning telur bebek dari bebek yang diberi lemna secara rutin menjadi semakin kuning, yang tentu mengindikasikan kadar protein tinggi yang dikandungnya. Usaha telur bebek yang dijalani Bu Sayemi dirasa cukup menguntungkan lantaran keuntungan bersih yang didapat sekitar Rp. 30.000,- per hari, dengan harga jual Rp 2.000,- per butir. Nominal ini bernilai cukup besar untuk ukuran Dusun Pagerjurang dan seluruh keuntungan dimanfaatkan Bu Sayemi untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

Ekspansi Bisnis

Berbekal hasil yang diperoleh dari berbudidaya lemna, Bu Sayemi berencana memperbanyak jumlah bebeknya menjadi 300 ekor untuk mewujudkan impiannya berbisnis telur bebek organik dan meningkatkan taraf hidup keluarganya. Cara yang akan dilakukan adalah dengan mengajukan proposal dukungan bisnis ke Program GADING.

“Ini sangat mendukung cita-cita saya yang ingin membumikan pangan organik. Saya tertarik dengan usaha ini karena di sini belum banyak peternak bebek petelur, baru ada satu dua peternak,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan telur bebek di Dusun Pagerjurang cukup tinggi karena selain dikonsumsi masyarakat, juga sering digunakan sebagai jamu untuk sapi. Rencana ekspansi akan mencakup Dusun Kepuharjo, dusun tetangga, dengan sistem pemasaran ketok tulah atau mulut ke mulut, serta memanfaatkan media sosial yang dimilikinya untuk menjalin kerja sama dengan pasar organik di Sleman yang kebetulan sering mengadakan pameran produk-produk organik. Produk yang ditawarkan juga tidak hanya berupa telur bebek segar organik, tetapi juga telur asin yang sudah diolah sehingga menambah nilai jual.

Media promosi lain yang akan digarap Bu Sayemi adalah Demplot Rumah Organik, sebuah demplot yang dibuat oleh ibu-ibu peserta Program GADING yang akan difungsikan sebagai media pembelajaran bagi masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan bio-slurry. Demplot ini ditanami berbagai tanaman organik berbasis bio-slurry.

Penambahan bebek berjumlah 300 ekor akan menghasilkan 240 butir telur bebek per hari (atau 7.200 butir per bulan), yang per harinya akan didistribusikan ke masyarakat (30 butir), warung kelontong (30 butir), warung jamu (60 butir), dan pasar tradisional (120 butir). Estimasi laba bersih yang akan didapat sebesar enam juta rupiah per bulan, yang tentu diharapkan dapat merangsang bisnis-bisnis turunan kreatif lainnya yang muncul dari bio-slurry.

Angka enam juta rupiah per bulan didapat dari total estimasi penjualan dikurangi biaya variabel untuk pakan, transportasi, dan lain sebagainya. Estimasi penjualan per bulan adalah 7.200 butir dikalikan Rp. 1.700,- per butir. Total keuntungan kotor yang didapat adalah Rp. 12.240.000,-.

Sementara biaya variabel yang diperlukan untuk pakan ternak bebek per bulan, transportasi angkut telur, dan lain sebagainya adalah Rp. 5.500.000,-. Maka dari itu, keuntungan bersih yang akan didapat oleh Bu Sayemi adalah Rp. 6.740.000,- per bulan.

Ekspansi bisnis ini diharapkan Bu Sayemi bisa menumbuhkan geliat ekonomi lokal agar masyarakat setempat semakin berdaya secara ekonomi dan sosial, serta lebih sehat melalui konsumsi pangan organik. (PR)

Share this: