Bakat Tersembunyi

14 Februari 2017

Murid-murid yang baru pulang sekolah dengan sepeda motornya memandangi kendaraan milik Biogas Rumah (BIRU), yang diparkir di depan sebuah warung kecil. Tampak seperti berada di tempat yang salah, di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota Kudus. Dan itulah yang kami rasakan. Namun, GPS menegaskan bahwa kami telah tiba di daerah yang ingin kami tuju, terlepas dari bungkusan kopi instan yang terlihat mencolok dipajang di depan warung dan rumah di sebelahnya yang tampak tidak ditinggali, tidak ada hal lain yang dapat kami lihat di sini. Ketika kami akan melanjutkan pencarian lebih jauh lagi, kami melihat ada gang kecil diantara dua bangunan yang terletak di pinggir jalan. Gang sempit tersebut membawa kami ke tempat yang kami cari: rumah Pak Musli, pemilik reaktor BIRU.

Ia sedang duduk di depan pintu rumahnya, menyegel botol-botol yang diisi dengan cairan berwarna kecoklatan. Seorang gadis kecil bersembunyi dengan malu-malu di sudut ruangan ketika kami masuk. Atas permintaan kami, pekerjaan Pak Musli kemudian dilanjutkan oleh karyawannya, lalu ia membawa kami ke belakang rumahnya. Di bawah naungan sebuah panel surya, ia menunjukkan kepada kami sebuah kebun kecil yang ia bangun di atas reaktor biogas. Di seberangnya, kami melihat jalan bebatuan yang tersusun rapi yang menghubungkan pintu belakang rumah dengan kandang dan inlet (lubang penampung) untuk memasukkan kotoran ternak. Di masing-masing sisi jalan bebatuan, Pak Musli menanam tanaman kale dan cabai. Ia mengatakan bahwa usaha berkebunnya telah memberi manfaat yang jauh lebih banyak, sejak ia menggunakan ampas biogas (bio-slurry) untuk memupuk tanahnya. Bahkan cacing tanah yang ia jual sebagai makanan burung tampak menyukainya.

Ketika kami tanyakan tentang cairan misterius yang kami lihat sebelumnya, mata Pak Musli mulai berbinar dan senyumnya berubah, senyum seorang wirausaha. Jelas sekali cairan yang dituangkan ke dalam botol itu adalah kebanggaan dan kebahagiaannya. Ia pantas berbangga atas produknya itu. Cairan itu adalah multivitamin yang ia produksi dan jual ke para pelanggannya di Kudus, Lampung, Bogor, dan Kalimantan dengan harga minimum Rp 35.000 per botol. Baru-baru ini, ia menerima pesanan sebanyak 10.000 liter yang harus ia kirim pada tanggal 1 Februari. Terdapat empat variasi produk: satu untuk ternak sapi dan kambing, satu untuk ayam, satu untuk ikan, dan satu lagi untuk burung. Umumnya, hewan yang mengkonsumsi cairan itu cenderung tumbuh lebih baik dan lebih sehat dibandingkan hewan-hewan lain yang tidak mengkonsumsinya. Nama produk itu adalah “Leptocohus”, bahan dasarnya adalah campuran antara bio-slurry cair dan urine hewan ternak. Tergantung jenis hewan yang akan diberikan, bahan-bahan lain akan ditambahkan ke cairan ini, namun bahan-bahan tersebut adalah rahasia perusahaan ungkap Pak Musli sambil mengedipkan matanya.

Sekarang, pertanyaan yang timbul dalam diri saya: bagaimana ia bisa sampai pada tingkat keberhasilan ekonomi yang ia nikmati saat ini? Menurut Pak Musli, ia senantiasa tertarik untuk menciptakan nutrisi terbaik yang dapat diberikan kepada hewan-hewannya, yang merupakan sumber pendapatan utamanya. Dibangunnya reaktor biogas dan bio-slurry adalah tambahan baru baginya dan ia semakin dapat bereksperimen dengan bahan yang baru. Usahanya segera menarik perhatian dari distributor di Surabaya. Bersama-sama mereka menyempurnakan resepnya dan tampaknya mereka berhasil. Bagaimanapun juga, permintaan pasar berbicara sendiri dan menjadi bukti.

Kisah Pak Musli adalah sebuah contoh bagaimana BIRU memberdayakan para penggunanya untuk mengejar impian kewirausahaan yang inovatif. Dengan bantuan dari BIRU, gagasan kreatif apapun secara potensial dapat diwujudkan menjadi sebuah usaha prospektif. (Max Schmiel)

Share this: