Bio-slurry dan I Made Raspita

26 Juni 2014
I Made Raspita dan kebun organiknya di Lewa, NTT

Sulit untuk percaya jika lelaki jangkung itu berusia hampir enam puluh tahun. Bagaimana tidak, gerak-geriknya lincah seolah tak habis dia punya tenaga. Dengan penuh semangat dia menunjukkan beberapa tanaman yang sudah dan sedang diuji coba menggunakan pupuk dari bio-slurry.

I Made Raspita (59) namanya, seorang laki-laki Bali yang sudah bertahun-tahun menetap di Lewa, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Kecamatan yang terletak 60 km arah barat ibukota Waingapu ini berada di ketinggian 700 m di atas permukaan laut, menjadikannya area yang tepat untuk menanam berbagai jenis sayuran, seperti yang dilakukan Made.

Made jugalah orang yang menginisiasi reaktor biogas di Lewa. Dengan ternak babi yang dia miliki, reaktor berukuran 6m3 dibangun, menyusul ukuran yang lebih besar 8m3 pada Mei 2013 sebagai praktek tukang biogas.

“Secara lingkungan kita sudah bisa melestarikan lingkungan, secara ekonomis kita sudah hemat,” kata Made ketika ditanya apa manfaat dari penggunaan biogas. Sekarang dia tidak lagi menggunakan minyak tanah. Padahal sebelum menggunakan biogas dia membutuhkan 4 liter minyak tanah per hari untuk kebutuhan rumah tangganya yang dihuni 11 orang. Dengan harga minyak tanah Rp 4.000 per liternya, keluarga Made telah memangkas pengeluaran hampir setengah juta per bulannya. Apalagi saat stok minyak tanah tidak tersedia, seperti yang sering terjadi di Sumba. “Kalau kita hanya mengharap kompor minyak, itu kadang-kadang bisa bahaya, bisa-bisa kita tidak makan satu hari.”

Diakui Made penggunaan biogasnya sendiri memang masih tergolong konsumtif, namun dia segera mengambil contoh lain dari manfaat biogas yang lebih produktif: pemanfaatan bio-slurry. Terakhir dia mendapatkan order pupuk organik padat 20 ton dari bio-slurry. Belum lagi yang dia pakai sendiri di kebunnya seluas 2 hektar.

“Di kebun saya ini tidak ada sama sekali cemaran bahan kimia, baik itu pupuk anorganik maupun pestisida kimia,” kata Made mantap. Setelah mengikuti pelatihan bio-slurry dengan BIRU, Made bahkan sudah memproduksi 500 liter bio-slurry cair. Meskipun belum ada label seperti produk pupuk kimiawi, dirinya percaya diri menjual pupuk cair seharga Rp 50.000 untuk satu jerigen ukuran 5 liter. Bandingkan dengan pupuk cair lain yang disebut-sebut sebagai pupuk organik yang dijual Rp 95.000 per 1 liter. Siapa yang tidak tertarik dengan pupuk yang  murahnya hampir sepuluh kali lipat  dengan hasil yang jauh lebih baik? “Petani mau yang konkrit, mereka mau lihat perbedaan hasilnya.”

Memang seperti apa hasil pertanian dengan menggunakan bio-slurry ini? Made mencontohkan kol bunga yang dia beri bio-slurry tumbuh jauh lebih baik dalam 3 minggu. Demikian juga dengan sayuran yang dia tanam bersama kawan-kawan petani di Sekolah Lapang Pertanian Organik (SLPO) yang tidak menggunakan urea rasanya lebih gurih, enak dan segar. Di komunitas lain, Made mencoba menyemprot selada air dengan bio-slurry, ternyata dalam waktu satu minggu sudah panjang lagi.

“Habis panen, kita tunggu tunas baru 4-5 hari kita semprot, minggu depan sudah panen lagi. Panen ulang setiap minggu!” jelas Made.

Made juga membuat percobaan untuk tanaman kayu. Dengan tanah dan pupuk yang difermentasi plus bio-slurry waktu penyiraman ternyata bibit yang belum didrop sudah hampir mencapai paranet. Pertumbuhan makin cepat dengan bio-slurry. Dalam setahun Made menyemaikan 100 ribuan bibit kayu-kayuan, baik itu kayu lokal maupun tanaman kayu introduksi.

Namun Made juga mengingatkan penggunaan bio-slurry ini secara tepat. “Kalau salah pemberian, misalnya saat berbuah atau berbunga baru kita kasih dosis tinggi, bukan untung yang kita dapat, tapi buntung yang kita terima,” kata Made. Dia mencontohkan tanaman pisangnya yang dia siram dengan bio-slurry cair banyak-banyak. Ternyata kulit pisangnya sampai robek dan isinya keluar karena buahnya terlalu besar.

“Itu karena pengaruh kegemukan, haranya terlalu banyak,” kata Made yang lalu terbahak mengingat kejadian tersebut.

Made yang sejak tahun 2000 menjadi Ketua Yayasan Sumba Sejahtera, bercita-cita memproduksi bio-slurry, baik padat maupun cair, dalam jumlah besar dengan jalan memanfaatkan limbah biogas dari pengguna-pengguna biogas lain yang tidak memanfaatkan limbah biogasnya. Kini, dengan 15 ekor babi yang Made miliki, setiap harinya dia  bisa mendapatkan 100 liter bio-slurry fermentasi. “Kalaupun 50%-nya saja saya jual, saya sudah jadi pengusaha pupuk,” kata Made tertawa renyah. Tapi paling tidak, Made tidak harus lagi mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pupuk bagi usaha pertaniannya.

Share this: