Barter Bio-slurry dengan Rumput Gajah

2 November 2011
Pak Athar semakin bersemangat memanfaatkan slurry miliknya

Awalnya Athar enggan untuk membangun reaktor biogas. Petani yang tinggal di Dusun Kebon Lauk, Desa Masbagik Selatan, Lombok Timur ini berpikir manfaat biogas tidak terlalu besar. Kalau sekedar untuk memasak, dia dan keluarganya masih bisa mengandalkan kayu bakar yang diambil dari kebun-kebun tetangganya. Selain itu biaya yang harus dikeluarkan cukup besar menurut ukuran kantongnya.

Namun pendamping lapangan kelompok ternak tempatnya bergabung tidak berhenti mendorongnya membangun reaktor biogas. Pertahanan Athar pun akhirnya luluh. Dia kemudian mendaftar untuk dibuatkan reaktor biogas.

Selama proses pembangunan reaktor biogas miliknya, dia selalu berdiskusi dengan supervisor dari Yayasan Mitra Membangun Masyarakat Sejahtera (YM3S) yang mengawasi pembangunan reaktor tersebut. Dari pertemuan-pertemuan itu dia mengetahui bahwa selain memanfaatkan gasnya sebagai bahan bakar, ampas biogas atau dikenal dengan sebutan bio-slurry, pun bisa digunakan sebagai pupuk. Begitulan yang selalu disampaikan oleh supervisor YM3S.

Kini, Athar merasakan manfaat keputusannya menggunakan reaktor biogas. Baginya reaktor biogas tak hanya menghasilkan bahan bakar untuk memasak. Ternyata bio-slurry memberikan manfaat ekonomi. Bio-slurry dimanfaatkannya sebagai pupuk pada tanaman. Bio-slurry yang diujicobakan pada tanaman tomat memberikan hasil yang cukup bagus. “Umur panennya sampai tiga bulan lebih. Sebelumnya hanya satu setengah bulan sampai dengan dua bulan saja. Bahkan kalau tidak dicabut, tanaman tomat tersebut bisa bertahan sampai empat bulan lebih,” kata Athar.

Melihat hasil tanaman yang dipupuk dengan bio slurry cukup bagus, tetangganya pun berminat menggunakan slurry dari reaktor miliknya. Tetanggnya bahkan bersedia menukar bio-slurry miliknya dengan rumput gajah.

“Sekarang saya tidak terlalu capek mencari rumput. Banyak tetangga yang bersedia menukarkan bio-slurry dengan rumput gajah. Dua jerigen slurry bisa ditukar satu karung rumput gajah,” katanya.

Kini Athar semakin bersemangat memanfaatkan bio-slurry miliknya. Dua petak lahannya kini ditanami jagung. Satu petak dipupuk dengan bio-slurry cair dan satu petak dipupuk dengan dengan bio-slurry kering. “Saya sudah menyiapkan sepuluh karung bio-slurry kering untuk pupuk tanaman jagung ini. Saya yakin hasilnya akan bagus,” kata Athar bersemangat. BIRU memang mengolah limbah menjadi berkah, termasuk ampas dari biogas itu sendiri. (M. Ali Ikhsan)

Share this: