Biogas, untuk Kehidupan Keluarga yang Lebih Baik

30 April 2011

Fatchiyah, 32, Fatchiyah menyalakan lampu biogas di ruang tengah rumahnya di Desa Tlogosari, Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur. “Saya harap ekonomi keluarga kami semakin lama semakin baik. Nanti, saya mau beli sebuah truk pick-up untuk usaha”.

Sudah sebelas tahun sejak Fatchiyah, 32, dan suaminya, Yusuf, 35, memulai bisnis sebagai peternak sapi perah. Pasangan ini memulai bisnis mereka dengan dua ekor sapi. Dari hasil menabung, mereka sekarang memiliki empat sapi perah. Keluarga ini tinggal di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sekitar 60 km arah selatan kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia dan ibukota provinsi Jawa Timur. Di daerah ini, kolonial Belanda pertama kali menerapkan peternakan sapi perah pada tahun 1911 untuk memenuhi permintaan susu segar. Seperti yang juga dihadapi peternak sapi perah di desa Tlogosari tempat mereka tinggal, pasangan ini berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka terutama kebutuhan bahan bakar untuk memasak. “Sepertiga dari pendapatan bulanan kami habis untuk membeli bahan bakar,” ujar perempuan itu.

Seperti halnya keluarga lain di desanya, Fatchiyah menggunakan kombinasi bahan bakar gas cair (LPG) dan kayu bakar untuk bahan bakar memasak sehari-hari. LPG digunakan untuk memasak, sedangkan kayu bakar digunakan untuk merebus air untuk keperluan sapi perah. Dalam sebulan, ia menghabiskan Rp. 450 ribu untuk bahan bakar; alokasi yang cukup besar dari penghasilannya yang hanya Rp. 1,5 juta per bulan.

“Biaya untuk bahan bakar cukup tinggi. Kalau memakai kayu bakar, panci untuk masak air pun cepat hitam legam,” kata Fatchiyah. Tidak hanya menjadi pemborosan sumber daya alam dan tidak sehat bagi lingkungan, banyak waktu terbuang untuk mengumpulkan kayu bakar. Penggunanya juga terpapar asap; membuat mereka rentan terhadap infeksi saluran pernapasan dan penyakit mata.

Bertujuan untuk meningkatkan kondisi kehidupan rumah tangga Indonesia, program BIRU yang diinisiasi oleh Pemerintah Belanda diluncurkan pada Mei 2009. Dilaksanakan oleh Hivos, sebuah organisasi non-pemerintah dari Belanda dengan dukungan teknis dari SNV, program ini dirancang untuk membuat dan meningkatkan penggunaan reaktor biogas rumah sebagai sumber energi lokal berkelanjutan.

Untuk mencapai tujuan itu, program BIRU bermitra dengan sejumlah organisasi lokal terkemuka sebagai mitra konstruksi dan pemberi kredit. Salah satunya adalah KPSP (Koperasi Peternak Sapi Perah) Setia Kawan, salah satu koperasi susu terbesar di Jawa Timur. Bekerja di 12 desa di Kecamatan Tutur Nongkojajar, koperasi ini menerima pinjaman dari BSM (Bank Syariah Mandiri) dan perusahaan makanan berbasis Swiss, Nestle, untuk mendukung pelaksanaan program biogas di daerah mereka.

Fatchiyah adalah anggota koperasi; dan dari koperasilah Fatchiyah pertama kali tahu tentang biogas. “Kami disarankan oleh koperasi untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Selain dapat kredit berbunga rendah, kami juga dapat subsidi dua juta rupiah dari total biaya,” kata perempuan itu penuh semangat. “Saya dan suami sangat tertarik, jadi kami putuskan untuk ikut”

Reaktor BIRU terbuat dari batu bata dan beton yang dibangun di bawah tanah. Reaktor ini mengubah kotoran hewan menjadi biogas untuk bahan bakar kompor gas dan lampu. Kotoran yang telah terfermentasi (bio-slurry) juga berfungsi sebagai pupuk organik berkualitas untuk lahan pertanian dan cocok untuk penggunaan untuk skala rumah tangga. Dengan pemeliharaan yang baik, bangunan reaktor bisa tahan hingga 15 tahun; sebuah investasi yang berharga untuk sumber enegi murah dan berkelanjutan.

“Peternak sapi di daerah Jawa Timur umumnya sudah memiliki paradigma investasi yang lebih maju dalam budidaya sapi. Hal ini membuat mereka lebih mudah paham dan menerima konsep investasi dalam pengembangan sumber energi baru yang terbarukan,” kata Wasis Sasmito, Koordinator Program BIRU untuk Provinsi Jawa Timur.

Untuk reaktor ukuran 6m3, Fatchiyah harus membayar Rp. 4,5 juta di luar subsidi. Berkat kredit dari koperasi, ia dapat menyicil Rp. 126 ribu per bulan selama lima tahun – jauh lebih sedikit dari yang harus ia bayar untuk keperluan bahan bakar setiap bulan. Kini, Fatchiyah senang karena pengeluarannya lebih sedikit dari sebelumnya. Iapun dapat mengajukan pinjaman lebih besar ke koperasi untuk memperluas usaha dan membuat kebun kecil yang ditanami bunga dan cabai.

“Saya harap ekonomi keluarga kami semakin lama semakin baik. Nanti, saya mau beli sebuah truk pick-up untuk usaha,”kata ibu dari Shala yang berusia 2 tahun dan M. Rifkan, 8 tahun, seraya tersenyum lebar.

Hingga akhir Mei 2011, program BIRU telah membangun lebih dari 2,300 reaktor di sepuluh kabupaten di Jawa Timur, 450 unit diantaranya dibangun oleh KPSP Setiakawan. Di Indonesia, program BIRU bermitra dengan 32 organisasi lokal sebagai mitra pembangunan. Program ini menargetkan pembangunan 8.000 unit biodigester pada akhir tahun 2012.

Share this: